Jumat, 18 Maret 2016

Teriakan Bekas Pecundang

Sesuatu yang berbeda tak selamanya salah
tapi biarlah apa yang tersirat kedalam
otak-otak mereka menjadi saksi 
bahwa kebenaran akan muncul perlahan.

Banyak teriakan demokrasi yang nyatanya hanya manipulasi.
Bukan tentang apa yang terucap
Namun siapa yang mengucap
Pejuang yang gagal akan menjadi pecundang
Tak ada kawan dan lawan yang abadi
Yang ada hanya kepentingan pribadi

Perang mulai bergejolak,
Kalian yang takut dibuang
melakukan propaganda agar tetap dikenang
Membisikkan hasutan agar terlihat bak pahlawan
Ingatlah kami masih hidup kawan
Tanpa perlu kalian singkirkan kami akan menghilang
tapi ingat suatu hari kebenaran akan datang.


Minggu, 14 Februari 2016

Pelangi Senja

Senja yang indah
Berdansa dengan tetesan air
Sisa dari hujan siang ini
Terlarut dalam damainya hati

Terlihat biasan cahya menari
Garis senyum warna warni
Mengalir menghias langit
Oh begitu indah sore ini

Merasa tentram di tengah keramaian
Memberi semangat dalam kejenuhan
Mengisi ruang kesendirian

Kamis, 04 Februari 2016

Tanya

Siapa ...
Tahu tak siapa, tak tahu siapa
Siapa tahu, Siapa tak tahu

Ada ...
Haruskah tersimpan, ataukah dihapus
Akankah terkenang, walaupun terbuang

Baiknya menghilang, meski tak ingin
Tetap terdiam, saat hati mengoceh
Terkecoh dengan akal yang berfikir
Namun hatilah yang merasa

Menghapus

Awalnya tak terasa
Semakin dalam menembus raga
Perlahan masuk kedalam sukma

Apakah ini luka
Menyayat setiap lembar daging
Mengalir bersama dengan darah

Apakah perlu tersimpan
Tersusun dalam bingkai terekam
Bersatu terajut dalam kenangan

Hapus saja semuanya
Buang ke kantong sampah
Bakarlah agar menjadi arang
Hanyutkan biarlah tenggelam

Senin, 01 Februari 2016

Senandung Mentari

Kala ayam bersenandung
Bergema suara panggilan
Lirih terdengar air mengalir
Tapak kaki mulai mendekat masjid

Di jalanan terlihat motor bergerak 
Menuju kesegala penjuru arah
Badan mereka belum terkena cahaya alam
Namun mereka mulai mencari rejeki

Begitu indah sang mentari
Perlahan mengintip bumi ini
Ibu-ibu menuju ke pasar
Membeli bahan makanan untuk keluarga

Seperti itulah suasana pagi
Sungguh menyesal jika tak melihatnya

Minggu, 31 Januari 2016

Harmoni Hujan

Angin lembut menerpa raga
Terdengar siulan pepohonan
Awan hitam menyebar luas
Menghalau saberkas cahaya

Air mulai jatuh membasahi aspal
Yang kering tergores oleh roda
Dingin mulai merasuk kedalam
Gemercik lantunkan  harmoni indah

Anak kecil menendang-nendang tanah
Menari riang penuh kegembiraan
Terlihat disekitar orang berlalu lalang
Entah apa tujuan mereka disana

Langit perlahan berubah cerah
Suara mesin melenyapkan nyanyian hujan

Malam yang Terekam

Malam yang indah ...
Bukan tentang cahaya bintang
Ataupun tarian dedaunan
Tapi saat bayangmu menemani lelap

Malam yang  ku nanti ...
Esok saat kita bersama disini
Membingkai kehidupan penuh kasih
Menuliskan lembaran baru ini

Malam ini akan kurekam ...
Memori saat aku merindukan
Dengan hati yang penuh harapan
Untuk bisa memilikimu seutuhnya